Mysterious folk pop bisa menjadi sebutan genre untuk mereka. Tak tahu tangan-tangan mungil siapa yang berada di band ini, namun jika mendengarkan vokalnya bisa menebak-nebak, apakah Priscillia dari Monday Math Class yang berada di balik layar? Ya benar! Pertama kali mendengar lagu mereka dari sebuah acara rutin bulan Ramadhan di suatu radio swasta yang terkenal, salah satu lagu mereka yaitu "Complications" menjadi soundtracknya. Dibuka dengan gebukan drum dan genjrengan gitar yang membangunkan suasana lalu ditambah dentingan glockenspiel yang menyentil hati, wah lagunya pasti lucu! Tidak usah dipertanyakan lagi jika Anda pernah mendengar lagu-lagu dari Monday Math Class, bagaimana suara si nona manis ini. British accent, yes! Cute vocal, yes! Jika mendengarkan lagu "Complications" saya merasa dibawa kesebuah sirkus yang penuh dengan badut lucu. Irama gitar dan drum yang teratur, susulan dentingan piano juga glockenspiel, semuanya beritme tepat, pas. Cocok untuk soundtrack balita bermain ataupun membuka lembaran di pagi hari. Lagu kedua berjudul "Paris", disini Prisci hanya mengucapkan kalimat demi kalimat dengan santai bak berpuisi ditemani petikan gitar yang "malas", tentu dengan british accent-nya yang kental sekali. Di beberapa part, siulan dari sang lelaki terdengar seperti hendak menemani suara perempuan. Dipenuhi dengan suara backsound orang-orang yang sedang mengobrol di kedai kopi menambah suasana yang natural. Dilihat dari liriknya, Paris digambarkan kota yang tepat untuk segala macam aktivitas, seperti sekedar melihat lelaki-lelaki Prancis yang hot, memainkan ukulele dan bernyanyi di pinggir jalan, memakan pastry terbaik di dunia, mengajak anjingmu berjalan di taman, sampai kota yang terlihat sangat keren untuk merokok. Rasanya sang nona melepaskan semua penat dan emosinya di kota ini karena ia melantunkan kalimat jangan lupa untuk memeluk orang yang kau tak kenal. Mendengarkan "Paris" ingin sekali langsung terbang kesana membawa sebuah cup coffee, lesehan di rumput depan Menara Eiffel dengan menggunakan sunglasses. Dua lagu yang manis untuk menemani keseharian dengan selalu tersenyum. Ulah siapakah ini semua? Atau malah ini sebuah reinkarnasi dari Monday Math Class? Who knows :P
Showing posts with label folk. Show all posts
Showing posts with label folk. Show all posts
Wednesday, 8 June 2011
Eleanor and the Penguin Club
Mysterious folk pop bisa menjadi sebutan genre untuk mereka. Tak tahu tangan-tangan mungil siapa yang berada di band ini, namun jika mendengarkan vokalnya bisa menebak-nebak, apakah Priscillia dari Monday Math Class yang berada di balik layar? Ya benar! Pertama kali mendengar lagu mereka dari sebuah acara rutin bulan Ramadhan di suatu radio swasta yang terkenal, salah satu lagu mereka yaitu "Complications" menjadi soundtracknya. Dibuka dengan gebukan drum dan genjrengan gitar yang membangunkan suasana lalu ditambah dentingan glockenspiel yang menyentil hati, wah lagunya pasti lucu! Tidak usah dipertanyakan lagi jika Anda pernah mendengar lagu-lagu dari Monday Math Class, bagaimana suara si nona manis ini. British accent, yes! Cute vocal, yes! Jika mendengarkan lagu "Complications" saya merasa dibawa kesebuah sirkus yang penuh dengan badut lucu. Irama gitar dan drum yang teratur, susulan dentingan piano juga glockenspiel, semuanya beritme tepat, pas. Cocok untuk soundtrack balita bermain ataupun membuka lembaran di pagi hari. Lagu kedua berjudul "Paris", disini Prisci hanya mengucapkan kalimat demi kalimat dengan santai bak berpuisi ditemani petikan gitar yang "malas", tentu dengan british accent-nya yang kental sekali. Di beberapa part, siulan dari sang lelaki terdengar seperti hendak menemani suara perempuan. Dipenuhi dengan suara backsound orang-orang yang sedang mengobrol di kedai kopi menambah suasana yang natural. Dilihat dari liriknya, Paris digambarkan kota yang tepat untuk segala macam aktivitas, seperti sekedar melihat lelaki-lelaki Prancis yang hot, memainkan ukulele dan bernyanyi di pinggir jalan, memakan pastry terbaik di dunia, mengajak anjingmu berjalan di taman, sampai kota yang terlihat sangat keren untuk merokok. Rasanya sang nona melepaskan semua penat dan emosinya di kota ini karena ia melantunkan kalimat jangan lupa untuk memeluk orang yang kau tak kenal. Mendengarkan "Paris" ingin sekali langsung terbang kesana membawa sebuah cup coffee, lesehan di rumput depan Menara Eiffel dengan menggunakan sunglasses. Dua lagu yang manis untuk menemani keseharian dengan selalu tersenyum. Ulah siapakah ini semua? Atau malah ini sebuah reinkarnasi dari Monday Math Class? Who knows :P
Thursday, 12 May 2011
Katjie & Piering
Pertama kali mendengar nama band ini dari seorang teman saya, yang terlintas dipikiran saya adalah "Hah? Kaci dan Piring?" Agak aneh memang, namun dalam kamus saya yang aneh itu pasti bagus. Tergeraklah hati saya untuk mencari link yang menyediakan lagu mereka dan.... ternyata mereka melegalkan lagunya untuk diunduh secara cuma-cuma. Sebuah folder bernamakan Kinanti sudah tersimpan di komputer saya, tinggal menyetelnya saja. Saat membuka folder tersebut, ternyata folder ini berisikan 5 lagu dimana 4 lagu adalah "lagu-lagu cover-an". Pertama, datang dari Olive Tree, Katjie & Piering memilih lagu berjudul "Psycho Girl". Mengingat bahwa Olive Tree adalah band yang mengusung genre powerpop dan sangat berkhas dengan suara vokalis yang dimainkan secara sengaja seperti menirukan suara tokoh-tokoh kartun. Di Lagu "Psycho Girl", Olive Tree terdengar kental memainkan riff-riff gitarnya. Lalu apakah yang dilakukan tangan-tangan Katjie & Piering ini? Sebaris petikan gitar akustik dilanjutkan suara manis dari Rr.Kushandari Arfanidewi atau yang dikenal dengan panggilan Ayayay SiKelinci (Baby Eat Crackers) dan juga suara berat dari Rd.Moch Sigit Agung Pramudita, yang juga biasa dipanggil Sigit (Tigapagi). Buaian suara vokalis wanita dibarengi dengan karawitan khas Sunda bisa dikatakan sangat brilian untuk mengubah mentah-mentah lagu yang semulanya penuh dengan riff-riff gitar menjadi beraroma tradisional.
"Destiny" dari Homogenic adalah lagu kedua yang mereka bawakan. Jika Homogenic membawakan dengan suara elektronya yang ngebeat dan bisa membuat kita menggoyangkan pinggul. Kembalilah Katjie & Piering mengambil senjatanya dan merubah menjadi sebuah lagu akustikan yang manis. Persamaannya adalah suara sang vokalis sama-sama menyentil telinga. Yang membuat saya tercengang, ternyata mereka turut memasukkan lagu "Zsa Zsa Zsu Zsu" dari Rock N Roll Mafia, sebuah band bergenre elektro yang penuh dengan ritme-ritme bigbeat dan kental dengan nuansa dancefloor. Ciamik adalah kata yang tepat untuk ubahan yang dilakukan duo folk pop untuk lagu ini, apalagi di menit terakhir mengalunlah suara suling yang membelai telinga. Lalu, "Polypanic Room" dari Polyester Embassy dibawakan dengan alunan pelan tapi apik. Dayuan-dayuan kedua suara emas ini dan rayuan kecapi, karinding, dan "mainan-mainan" tradisional lainnya sukses membuat hati tenang. Lagu "Kinanti" yang merupakan lagu mereka sendiri tidak jauh berbeda dengan lagu-lagu sebelumnya, tetapi suara "nyinden" lebih mendeskripsikan lagu ini dengan ditutup oleh suara cello. Indonesia tradisional pop tepat menggambarkan bagaimana musik mereka. Salah satu terobosan baru dalam permusikkan Indonesia yang tentunya digemari dan menuai banyak pujian dari berbagai kalangan. Salut!
"Destiny" dari Homogenic adalah lagu kedua yang mereka bawakan. Jika Homogenic membawakan dengan suara elektronya yang ngebeat dan bisa membuat kita menggoyangkan pinggul. Kembalilah Katjie & Piering mengambil senjatanya dan merubah menjadi sebuah lagu akustikan yang manis. Persamaannya adalah suara sang vokalis sama-sama menyentil telinga. Yang membuat saya tercengang, ternyata mereka turut memasukkan lagu "Zsa Zsa Zsu Zsu" dari Rock N Roll Mafia, sebuah band bergenre elektro yang penuh dengan ritme-ritme bigbeat dan kental dengan nuansa dancefloor. Ciamik adalah kata yang tepat untuk ubahan yang dilakukan duo folk pop untuk lagu ini, apalagi di menit terakhir mengalunlah suara suling yang membelai telinga. Lalu, "Polypanic Room" dari Polyester Embassy dibawakan dengan alunan pelan tapi apik. Dayuan-dayuan kedua suara emas ini dan rayuan kecapi, karinding, dan "mainan-mainan" tradisional lainnya sukses membuat hati tenang. Lagu "Kinanti" yang merupakan lagu mereka sendiri tidak jauh berbeda dengan lagu-lagu sebelumnya, tetapi suara "nyinden" lebih mendeskripsikan lagu ini dengan ditutup oleh suara cello. Indonesia tradisional pop tepat menggambarkan bagaimana musik mereka. Salah satu terobosan baru dalam permusikkan Indonesia yang tentunya digemari dan menuai banyak pujian dari berbagai kalangan. Salut!
Saturday, 19 June 2010
Indie Art Wedding
Mungkin sebagian dari anda semua masih asing dengan nama Indie Art Wedding, namun jika tau lelaki yang ada dibalik Indie Art Wedding ini, pasti anda langsung ber "oooo" ria. Siapakah lelaki itu? Cholil Mahmud, vokalis dari Efek Rumah Kaca. Dan di prjocet ini Cholil menggandeng istirnya, Irma Hidayana. Dengarlah lagu Dua Langkah Kecil, alunan suara merdu Irma dan juga Cholil sangat menyejukkan untuk lagu pembuka, petikan minimalist dari Cholil dan Irma yang menggunakan suara tingginya di awal lagu lalu beralih ke suara rendahnya di bagian reff, ciamik! Lagu kedua, Cinta Itu Sengit, ini lagu lawak hahaha, liriknya itu lucu dan membuat tertawa kecil, Irma melantunkan kalimat "Aku tak suka ku tak juga berhenti merokok" lalu Cholil membalas "Aku tak suka kamu tak suka aku merokok" begitupula seterusnya saling balas-balasan, itulah maksud mereka dengan apa yang disebut cinta itu sengit, dan di menit ke 2 detik 40 Irma memainkan senjata andalannya, xylophone Berlanjut ke Untuk Anakku dan Anak dari Anak-Anakku, liriknya berupa nasihat ""mimpikan ayah ibumu tidak bertengkar, tak ada piring terbang, yang melayang - layang, tidak ada baku hantam, semua senang" ini adalah lagu tersimple. Lagu terakhir, lagu kesukaan saya! Hidup itu Pendek Seni Itu Panjang, satu-satunya lagu yang menggunakan drum dan dari awal Irma memainkan xylophone-nya. Saya paling suka saat mereka bernyanyi "karena seni membuat semua terasa mudah, karena seni membuat semua jadi indah, karena seni membuat semua jadi asyik" lantunan lalala dan gumaman memeriahkan lagu ini. Kebetulan saya pernah liat live-nya, rasanya damai banget melihat mereka berdua beraksi, ditambah anak-nya menonton mereka beraksi, dan sesekali Irma menganggukan kepalanya ke arah si buah hati mengajak berdendang bersama, kalau kata ABG-ABG sih, so sweet!!! Minimalis, bermodalkan petikan folk gitar Cholil, dentingan manis xylophone dari Irma dan tentunya easy listening. Beruntunglah kalian yang lagi 'bokek', karena lagu mereka dapat didownload secara gratis dan tidak tersedia CD-nya, karena CD-nya hanya menjadi souvenir saat pernikahan mereka yang berlangsung 5 Oktober 2008 lalu. Nyanyi dulu ah... " dan sebab hidup itu pendek karena seni itu panjang..."
Subscribe to:
Posts (Atom)


