Saturday, 11 December 2010

African Air Conditioner



Band yang mengiaskan kota mereka Surabaya menjadi Afrika dan mengiaskan mereka adalah air conditioner adalah sebuah indie rock band yang beranggotakan 3 orang. Lalu apa hubungannya antara Surabaya dengan air conditioner? Well, lets see about their opinions: Surabaya is such a hot city, whether it's the weather, the people, and even the music. Oh ternyata itu toh, mungkin mereka ingin menjadi penyejuk di dunia permusikkan Surabaya yang memanas atau mungkin ingin menyejukkan dunia permusikkan di Indonesia? Who knows. Lalu apakah mereka berhasil menjadi penyejuk? Jawabannya ada di anda, silakan cek myspace mereka atau download EP mereka. Di mata saya, mendengarkan lagu mereka itu bagaikan petualangan di kota yang padat, jika anda ke gedung pencakar langit terlihatnya seperti itu, jika anda ke supermarket akan terlihat pemandangan yang berbeda, jika anda ke pemukiman kumuh lebih berbeda lagi pemandangannya. Nah, maksud saya jika anda mendengar lagu mereka, anda akan dikejutkan dengan perbedaan-perbedaan di musik yang mereka mainkan di tiap lagunya. Jika anda memulai berkenalan dengan mereka melalui lagu "Satelite" anda akan dibuai oleh suara sang vokalis, my fav. Dilanjutkan dengan lagu "Sold Out" pendengaran anda langsung digebrak tetapi vokalnya tetap membuai. Ketika perjalanan dilanjutkan dengan "Jarak dan Waktu" mereka mengajak bersantai sejenak, tidak terlalu keras dan tidak terlalu mellow, saat ini mungkin lagu tersebut satu-satunya lagu yang berbahasa Indonesia, my fav too. Tetapi jika anda membelokkan pendengaran anda ke "In A Tin Can" seakan-akan kita semua diajak bermusikalisasi puisi dalam durasi 1 menit, nice try!

2 comments:

Anonymous said...

nice review!

Raharjo Prionggo said...

Ya Tuhaaaannnn